Heboh mengenai UU Cipta Kerja terjadi di Tanah Air, banyak para buruh memprotest karena dianggap lebih banyak merugikan buruh, salah satu hal yang ditakutkan mereka: Masuknya Tenaga Kerja Asing yang akan berkompetisi dengan mereka.

Mereka yang protes jelas menunjukkan tidak siap bersaing, tidak siap berkompetisi dengan tenaga kerja dari Vietnam, China, India, dll, yang dimana secara income malah lebih kecil, tapi etos kerja jauh lebih tinggi, lebih cekatan, lebih rajin dibandingkan buruh kita.

Persoalannya bukan terletak pada kemampuan, tetapi pada mental. Kemampuan bisa ditingkatkan tetapi mental pecundang sulit sekali diubah. Maka sangat disayangkan, alih-alih berbenah diri, meningkatkan kualitas untuk siap bersaing, yang ada (tapi tentu tidak semua) justru teriak-teriak protest, tidak mau terima, mengorbankan kebencian, dan menyalahkan orang lain (dan pemerintah).

Sebenarnya, jika kita mau tahu, bukanlah ancaman kompetisi Tenaga Kerja Asing yang yang menjadi ancaman. Ancaman yang paling nyata adalah Otomasi dan Digitalisasi Industri, atau yang lebih dikenal kaum awam sebagai ‘Robot Pekerja’.

Saya penasaran : akan bagaimana lagi hebohnya mereka yang kemarin protest UU Cipta Kerja Omnibus Law, jika kemudian para Robot Pekerja itu masuk dan mengambil alih pekerjaan para buruh? Akankah mereka protest dan menghancurkan robot-robot itu? Terjadi skenario “Human vs Machine” seperti di film-film fiksi ilmiah? Lalu apakah lantas dengan merusak dan menghancurkan, maka para robot itu akan ‘kapok’ dan tidak akan mau lagi datang?

Sepertinya tidak, justru saya bilang para buruh manusia-lah yang kemungkinan besar akan tersingkir. Para buruh itu akan ‘habis’ di-disrupsi oleh teknologi, sama seperti kuda di-disrupsi pada awal abad ke 20, karena ditemukannya motor 4-tak untuk mobil oleh Henry Ford, jalan raya yang tadinya penuh kuda mendadak hilang, digantikan kini oleh “kereta setan” kata orang kampung dulu bilang yang bisa bergerak sendiri tanpa kuda karena ada alat hasil karya kejeniusan otak manusia.

Seandainya kuda itu manusia, mungkin saja mereka akan protest, tapi tokh perubahan jalan terus. Mereka hilang dari jalanan, vanish, tersingkir. Kuda tersingkir bukan oleh mobil, dan buruh dikalahkan bukan oleh Robot; tapi oleh Hukum Ekonomi. Ekonomi selalu menang. Hukum Ekonomi pula yang membuat para buruh nantinya terdisrupsi oleh robot.

Mengapa saya bilang demikian? Karena saya punya alasan kuat, sebab saya sendiri adalah.. salah satu orang yang berkecimpung dalam dunia itu. Ya saya sehari-hari adalah seorang Insinyur Robotik dan Kecerdasan Buatan. Saya bekerja di sebuah perusahaan pengembang Kecerdasan Buatan bernama Cognixy.ai di Jakarta. Jadi secara kasar boleh dibilang, saya ikutan ‘andil’ dalam upaya menghancurkan kaum buruh (manusia).

Tapi tulisan ini bukanlah untuk mengintimidasi melainkan sebuah peringatan agar kita siap menghadapi, karena mau tidak mau, terima atau tidak terima, robot pekerja itu akan datang, semua task-task pekerjaan repetitif dan manual akan digantikan oleh mereka.

Gaji seorang buruh di Indonesia katakanlah Rp 5juta perbulan , atau Rp 600 juta sepuluh tahun, sedangkan dia hanya bisa bekerja 8 jam x 24 hari (sebulan) . Bandingkan dengan Robot pekerja yang, katakanlah seharga Rp 600 juta juga untuk pemakaian 10 tahun (dan bisa lebih, umur Robot rata-rata 15 – 20 tahun).

TAPI….

Robot-robot itu bisa bekerja 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan 365 hari setahun. Non stop. Memang ada biaya maintenance, tetapi robot tidak akan menuntut gaji, mereka tidak akan mogok, minta pesangon, mengajukan cuti, dan hal tetek bengek lain-lain yang memusingkan pengusaha.

BACA JUGA:  Memanggil Kembali File yang dihapus di Online dengan Chache

Kesimpulannya jelas: output Robot akan lebih efisien, lebih besar, dan lebih banyak ketimbang output buruh manusia. Dan secara Hukum Ekonomi: jika andaikata kita seorang pengusaha dan berpikir rasional, membandingkan 2 faktor tenaga kerja di atas: pada akhirnya siapa yang menang?? Jelas Robot Pekerja!

Perbedaan 2 Jenis Robot Pekerja
Robot Pekerja secara umum terbagi menjadi dua: Robot Humanoid (berbentuk seperti tubuh manusia) dan Robot Non Humanoid , yang berbentuk khusus misalnya Robot Lengan (Arm Robot), Robot Palet (Pallete Robot), dan lain-lain.

Robot Lengan seperti yang Anda lihat pada gambar di bawah, dinamakan demikian karena bentuknya memang seperti lengan manusia. Robot ini sudah dipakai di industri manufaktur semenjak 1970-an. Di negara-negara maju seperti Jepang dan Jerman, lengan robot lazim digunakan, karena di sana tenaga manusia lebih mahal dibandingkan biaya pengadaan robot. Tetapi di negara berkembang seperti Indonesia robot lengan tidak terlalu dipakai karena ongkos buruh di sini sangat murah, kecuali untuk pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan presisi tinggi.

Lengan Robot pada industri manufaktur perakitan mobil

Robot Pallete seperti yang Anda lihat di bawah dinamakan demikian karena bentuknya memang seperti papan datar dan robot ini lebih dikhususkan sebagai pengangkut barang (Mover Robot), jadi robot ini lebih banyak dipakai di gudang-gudang atau warehouse inventory. Robot Pallete adalah pengembangan lebih lanjut teknologi robot setelah Robot Lengan, karena Robot Pallete adalah robot yang mobile ketimbang statis, maka robot ini memerlukan teknologi pengolahan citra (image processing) dan penuntutan arah (guided pathaway ) yang mumpuni, disamping ke mekatronika.

Robot Pallete sedang memindahkan barang

Sedangkan Robot Humanoid semenjak lama lebih banyak dalam khayalan manusia dan film fiksi ilmiah, mereka baru mulai muncul di dunia nyata setelah tahun 2000-an, seiring dengan berkembangnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (A.I.), robot humanoid memiliki kemampuan lebih selain kontrol sempurna untuk pergerakan bipedal (pergerakan 2 kaki berjalan seperti manusia) dan penggunaan 2 lengan tangan, persis seperti tangan manusia.

Contoh Robot Humanoid yang mulai dikomersilkan adalah produksi Boston Dynamics, seperti yang Anda lihat dibawah, perusahaan startup yang di-funding dengan unlimited funds oleh Masayoshi Son dari Softbank ini sudah bereksperimen membuat berbagai macam Robot Humanoid dan bahkan robot anjing!

Robot Humanoid buatan Boston Dynamics

Ke depannya, Robot Humanoid inilah yang diperkirakan benar-benar akan mengancam kehidupan manusia, setidaknya dalam hal pekerjaan. Robot Humanoid diproyeksikan untuk benar-benar menyerupai (atau istilahnya: mimic) terhadap apa yang dikerjakan manusia. Robot ini bisa berjalan seperti manusia, bisa bicara seperti manusia, bisa bernyanyi, dan bahkan bisa berinteraksi dengan manusia asli dan memiliki kemampuan kognitif juga untuk melakukan tugas yang disampaikan secara oral oleh si manusia (asli), jadi misalkan manusia asli bilang : “Tolong buatkan saya kopi!” , maka robot ini akan bergerak sendiri ke dapur, mengambil cangkir, mencari gula, mencampur dengan bubuk kopi, dan hingga menghidangkan ke meja Anda.

Dia jelas-jelas bisa menggantikan tenaga manusia, dan lebih dari itu, dari semua proses dan pekerjaan yang dia lakukan; dia mampu belajar untuk menyempurnakan tugasnya. Dan kemampuan belajarnya sempurna melebihi manusia.

Dan diantara kemampuan Robot Humanoid, yang paling ditakuti tentu saja kemampuan mereka berinteraksi sosial dengan manusia asli. Anda harus melihat bagaimana robot Sophie bisa ‘bercanda’ dengan seorang host infotainment di sini. Di Jepang, orang bahkan sudah menjadikan robot humanoid sebagai pasangan hidup (suami-istri). ya , ini serius! Dalam hal pekerjaan , jika humanoid robot sudah merajalela di mana mana, mereka bisa jadi buruh, dokter, pengacara, bahkan.. TENTARA!

BACA JUGA:  Pelatihan Offline Gratis

Era Kebagkitan Robot Pekerja di Indonesia
Kita kembali ke Indonesia. Satu satunya alasan kenapa Robot pekerja belum digunakan hingga saat ini adalah: karena ongkos buruh di Indonesia masih sangat murah dibandingkan dengan nilai pengadaan robot itu sendiri.

Jika Anda lihat grafik di bawah ini yang berasal dari sebuah artikel (sumber) , Anda bisa melihat bahwa efisiensi labor-cost saving yang dihasilkan dari penggunaan robot pada tahun 2025 di negara Indonesia dan India Nol persen. Apa artinya?

Artinya secara nilai ekonomis penggunaan robot di Indonesia dan India tidak ada. Ini dikarenakan tenaga kerja di kedua negara ini sangat murah dan berlimpah, sehingga tidak menguntungkan pengusaha lebih memberatkan faktor produksi ke robot dibandingkan manusia.

Tapi satu hal… pandemic Covid-19 telah merubah segalanya!
Artikel ini ditulis Oktober 2020, ditengah-tengah pandemik COVID-19 yang mengganas dan belum juga menunjukkan trend penurunan kendati vaksin dikabarkan telah berhasil dibuat. Artikel sumber di atas adalah artikel tahun 2017 dan angka efisiensi Nol persen di Indonesia tahun 2025 adalah angka prediksi, jadi ada kemungkinan berubah jika ada suatu keadaan luar biasa (extra ordinary), dan keadaan pandemik ini salah satunya.

Berdasarkan liputan dari sumber media-media terkemuka seperti Financial Times, New York Times, BBC , Govtech ; bisa disimpulkan bahwa penggunaan robot justru meningkat tajam di era pandemik. Robot mulai digunakan untuk menggantikan kasir dan pelayan toko, membantu tenaga medis di rumah sakit, membantu memasak makanan dan menjual di restoran, dan bahkan robot . Jelas, inklusi robotik di dunia mengalami percepatan yang sangat besar, dan ironisnya semua ini terpacu begitu cepat justru setelah adanya pandemik, di saat sebagian besar ekonomi negara-negara di dunia mengalami resesi, robot secara diam-diam telah mengambil alih aktivitas manusia.

Pertanyaanya sekarang: Bagaimana di Indonesia?

Perlu diketahui bahwa alasan utama kenapa robot mulai digunakan saat pandemik bukan karena alasan biaya, tetapi alasan kesehatan. Orang masih bisa berkompromi untuk urusan harga yang lebih mahal tapi takkan bisa untuk urusan keselamatan dan kesehatan. Dan urusan kesehatan ini wajar menjadi prioritas semua negara di dunia.

Seluruh dunia terkena imbas pandemik, banyak negara melakukan Lockdown, Indonesia memberlakukan PSBB, tapi pada intinya sama saja: membatasi aktivitas manusia, tentu saja yang dimaksud adalah aktivitas fisik bukan sosial. Masalahnya, sekalipun aktivitas fisik dibatasi, bisnis harus terus berjalan, ekonomi harus terus bergerak. Karena itu untuk mengatasinya hanya ada dua cara: Digitalisasi dan Robotik untuk menggantikan fisik manusia.

Robotik mau tidak mau harus menjadi opsi yang diambil untuk aktivitas fisik. Untuk komunikasi masih bisa dengan digitalisasi karena tidak melibatkan interaksi fisik, tetapi untuk proses manufakturing? Untuk logistik? Untuk produksi dan lain-lain? Tidak bisa! Harus tubuh fisik yang melakukan, dan dalam hal ini: robot-lah yang disuruh bekerja.

Harga Robot semakin Turun
Bahkan tanpa pandemik sekalipun, dalam soal biaya operasional pun grafik di bawah menunjukkan posisi robot pekerja mulai kompetitif dibandingkan tenaga kerja manusia. Berikut adalah grafik data rata-rata biaya Robot Pekerja di AS dari tahun 2005 ke 2017 dengan prediksi tahun 2025 .(sumber).

BACA JUGA:  Kekuatan Komunitas Para Programmers
Industrial robots – average cost 2005-2025
Published by Melania Scerra, May 29, 2020
 The average cost of industrial robots worldwide declined steadily over the past decade, from about 46,000 U.S. dollars in 2010 to 27,000 U.S. dollars in 2017. According to a recent forecast, related costs are expected to decrease to 10,856 dollars by 2025.

Average cost of industrial robots in selected years from 2005 to 2017 with a forecast for 2025(in U.S. dollars)

Dulu 10 tahun lalu sebuah lengan robot bisa seharga Rp 1 milyar tetapi sekarang 150 juta saja sudah dapat. Dan umur efektif mereka adalah 15 tahun. Trend penurunan cost ini tentu saja dilawankan dengan gaji buruh yang terus naik. Bayangkan jika kita harus menggaji seorang pekerja yang hanya bisa 8 jam sehari, 5 hari seminggu, dan kalikan itu selama 15 tahun.

Jelas akan ada kondisi pada suatu titik yang akan bersilangan , di mana akhirnya harga efektif robot akan lebih murah daripada menggaji buruh. Hingga akhirnya perusahaan atau pabrik akan lebih memilih menggunakan robot ketimbang menggaji buruh.

Entah kenapa, entah ini benar atau salah, dunia memang sedang diarahkan ke sana, bahkan di Indonesia pun diarahkan ke sana. Dengan kejadian seperti kerusuhan demo UU Cipta Lapangan Kerja , di mana buruh ngamuk karena merasa hak-haknya dirampas, maka jangan salahkan jika pola pikir pengusaha pun akhirnya berubah: “Daripada mempekerjakan buruh manusia yang terus-terusan nuntut kenaikan gaji, pesangon, terus dikit-dikit demo , ngamuk, protes, nuntut ini-itu,… Ah! Ribet! Mendingan pake Robot aja deh! “

Dan saya berani bertaruh, pola pikir ini mulai subur dikalangan pengusaha Indonesia. Implikasinya akan terlihat ketika keadaan sudah mulai normal nanti. Ketika mulai pandemik kemarin, banyak yang di-PHK karena aktivitas produksi menurun, tapi jangan harap ketika aktivitas sudah normal akan terjadi lagi perekrutan besar-besaran.

TIDAK! Para pengusaha itu akan lebih memilih Robot Pekerja ketimbang buruh manusia, atau kalaupun memilih buruh mereka akan memilih buruh yang terampil tapi lebih murah seperti dari Pakistan dan Bangladesh, yang dimana secara legal menurut UU Cipta Lapangan Kerja mereka sudah lebih mudah masuk ke Indonesia.

Tapi seperti yang saya bilang, jika saingannya sama-sama manusia, pekerja dari India, Pakistan, atau Bangladesh, itu masih jauh lebih mudah ditangani. Teorinya tinggal tingkatkan saja skill SDM kita agar lebih unggul dari mereka sehingga lebih memiliki nilai jual.

Yang susah adalah jika saingannya mesin dan robot, mereka sanggup bekerja 24 jam, 7 hari seminggu, 365 hari setahun, dengan tingkat ketelitian presisi dan tak kenal lelah atau mengantuk.

Bagaimana Mengantisipasinya?
Buruh jelas akan terdisrupsi dengan robot, persis seperti kuda didisrupsi oleh mobil. Tetapi buruh adalah manusia bukan kuda. Manusia adalah insan mulia yang mampu berpikir, artinya kita seharusnya bisa melakukan sesuatu untuk bisa menyingkapi dan bertahan dalam situasi ini.

Tentu bukan dengan cara primitif seperti menghancurkan robot begitu masuk pabrik, itu sama sekali bukan cara manusia cerdas. Robot-robot itu bagaimanapun akan menang, karena Hukum Ekonomi berpihak pada mereka.

Lalu bagaimanakah caranya? Tenang saja, saya akan segera mengungkapkannya dalam tulisan-tulisan saya berikutnya di web ini: www.ahlicoding.com. Akan saya jabarkan langkah-langkah untuk mengantisipasi serbuan Robot Pekerja yang siap memasuki kehidupan kita dengan lingkungan industri 4.0 nya.

Silahkan Anda menunggu sejenak di web saya: Ahlicoding.com , pada Kategori: Robotic dan Automasi (sumber link).

Last modified: October 16, 2020

Author

Comments

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.