Bandung, beberapa hari kemudian

Rian.

Hujan lebat baru saja reda ketika kereta Argo Parahyangan yang aku tumpangi ini mulai memasuki stasiun Bandung. Siang hari di bulan Desember saat musim penghujan membuat cuaca kota Bandung menjadi sejuk sekali.

Kupandangi keluar jendela kereta, langit masih kelabu, hujan rintik-rintik masih turun sesekali, tetesannya perlahan menitik tanah di samping rel membuat membuat suasana menjadi syahdu, hawa dingin seolah menyelimuti bumi dan bawaannya hanya ingin membuat semua orang berkemul di bawah selimut.

Ah, kota Bandung di waktu hujan. Benar-benar nikmat!

Setengah mengantuk, kupandangi arlojiku. Jam 1.15, 45 menit sebelum janji pertemuanku dengan Milly di sebuah cafe di kota Bandung. Aku hanya punya waktu 45 menit ke sana, dan tidak tahu apakah bisa datang tepat waktu dengan kondisi kota Bandung di saat hujan begini, yang biasanya macet parah. Ah tapi sudahlah!

Seiring kereta berhenti, aku bersiap turun dan memakai kembali masker wajahku, sebuah tindakan yang terlanjur menjadi kebiasaan baru bagi puluhan juta orang Indonesia dan milyaran orang di seluruh dunia. Pademik Covid-19 atau Corona Virus sudah genap berusia satu tahun hari ini semenjak kasusnya pertama kali ditemukan di Wuhan, Tiongkok tahun 2019 lalu, dan dari situ dengan cepat menyebar ke seluruh dunia. Sebuah pandemik yang mengakibatkan lebih dari satu juta orang di seluruh dunia meninggal dan kehancuran ekonomi di banyak negara termasuk Indonesia. Pandemik ini memaksa orang-orang membatasi aktifitas fisik keluar rumah atau bertemu orang-orang, hampir semua kegiatan harus dilakukan dengan bantuan online.

Sebagian ahli mengatakan , ini adalah sebuah perubahan besar dalam perjalanan peradaban dunia dan umat manusia. Perubahan ke arah mana, itu yang belum jelas, yang pasti tahun lalu dan sekarang juga seterusnya, semua tidak akan lagi sama.

BACA JUGA:  Solehai - Episode 2.1

Sambil menggendong ransel aku berjalan menyusuri koridor stasiun menuju Pintu Utara bersama para penumpang lain, cuaca masih gerimis saat aku menyeberangi peron-peron rel menuju pintu keluar, sesekali sambil menatap layar smartphone melihat apakah kendaraan taksi online yang kupesan lewat aplikasi sudah sampai. Ternyata masih jauh, untuk memutar saja butuh 15 menit.

“Taksi, Pak! Taksi Pak!” sesekali perhatianku teralihkan pada beberapa Bapak tua yang menawarkan jasa taksi gelap di Pintu Utara stasiun, mereka berbaju agak lusuh, memakai masker di dagu dengan asal-asalan. Mereka pasti sudah melakukan ini lebih dari 40 tahun yang lalu , pikirku. Mereka sudah menjadi sopir taksi semenjak puluhan tahun yang lalu. Jauh sebelum teknologi aplikasi Android ditemukan, bahkan handphone pun belum ada, dan jauh sebelum dunia berubah total karena pandemi Covid19.

Dan mereka tetap melakukannya hingga hari ini. Ditengah-tengah gempuran teknologi desruptif seperti Gojek dan Grab, mereka tetap melakukan hal yang sama, cara yang sama, menawar-nawarkan penumpang yang baru keluar dari stasiun. Aku terkadang heran bagaimana mereka bisa bertahan.

Kuterdiam dan berdiri sejenak, kulihat kembali layar smartphone ku. BANGSAT! Aku di-Cancel oleh si pengemudi! Aku bisa memahami, aku sudah hapal kondisi kota ini sehabis hujan deras: pasti macet total, dan di saat ini wajar jika para pengemudi online menjadi tidak sabaran, akhirnya mereka memilih meng-Cancel pesanan pelanggan.

Kuterdiam sejenak, untuk memesan lagi pasti butuh waktu lama, dan pasti aku akan terlambat. Sempat terlintas untuk memakai Gojek motor saja, tapi kutatap lagi langit kelabu di atas, rintik-rintik hujan masih turun sesekali dan cuaca masih dingin. Di pelataran parkir genangan di mana-mana, pasti akan becek sekali dan celana jeansku basah. Malas sekali rasanya.

BACA JUGA:  Solehai - Episode 1.3

“Taksi, Pak! Taksi Pak”

Aku menoleh ke arah Bapak tua yang menawariku.

“Berapa sampai Jalan Bengawan?”

“Jalan Bengawan, daerah Laswi ?”

“Muhun. Sabaraha (Iya, berapa) ?”

“Tujuh puluh lima rebu lah!”

“Saya kasih 100 kalo bisa sampe di sana sebelum jam 2!”

“Siap, ayo lah!”

Bapak itu segera berlalu aku mengikutinya dari belakang.

Di mobil Avanza model tua milik si Bapak sopir kupandangi jalanan kota Bandung. Sesuai dugaanku, macet memang, tapi benar-benar sejuk karena sehabis diguyur hujan deras dan genangan di mana-mana.

Kulihat layar smartphone ku dan meng-update WA, aku mengirim pesan ke Milly mengabari kalau kau sudah di taksi dan bahwa mungkin aku terlambat karena jalan macet . Sesaat kemudian Milly menjawab ‘Gpp, santai aja’ . Ya sudah. sekarang tinggal nikmati saja perjalanan.

Jam 2 kurang 10 tapi aku baru sampai di Jalan Riau. Sudah pasti telat. Aku menyisipkan uang seratus Ribuan Rupiah untuk si Bapak Sopir. Mestinya sesuai janji aku kasih jika sebelum jam 2 sampai, tapi biarlah! Terlambat pun tidak apa-apa, aku sedari awal memang berniat mengasih semuanya.

Kuperhatikan si Bapak Sopir, aku yakin dia pasti sudah puluhan tahun melakukan profesi menjemukan ini.

“Tos lami, Pak narik (Udah lama Pak, narik)?”

“Ah, keneh genep bulan, Pak (Ah, baru 6 bulan, Pak) !”

BACA JUGA:  Solehai - Episode 1.1

“Enam bulan? Emang sebelumnya di mana?!”

“Sebelumnya saya security di Hotel (dia menyebutkan sebuah nama Hotel Bintang Lima terkenal di Jalan Juanda) , ini mah gara-gara Copid saya di-PHK, jadi weh narik! Ini mobil juga boleh minjem dari temen, sesama taxi juga”

Tebakan saya salah, ternyata dia baru saja menjalani profesi ini. Dia terdepak dari pekerjaannya gara-gara Coronavirus jahanam ini, dan terpaksa shifting usahanya ke bidang lain. Yah mau gimana lagi? Dia harus narik taxi ke jalan, biarpun kata Pemerintah dilarang keluar rumah karena Lockdown kek, PSBB kek, tapi yang namanya perut harus diisi ?

Aku benar-benar memahami suasana pandemi Covid19 ini menghancurkan banyak pihak, termasuk mungkin si Bapak Sopir ini. Semua orang kesulitan, kecuali mungkin perusahaan – perusahaan Farmasi raksasa, yang justru mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari pandemik ini.

Memang, orang bijak bilang: ‘Krisis itu tidak pernah menghancurkan semua pihak. Memang banyak yang menderita, tapi pasti akan ada segelintir orang, entah di belahan dunia mana–yang sedang tertawa terbahak-bahak menikmati keuntungan dari krisis tersebut.’

Dan kali ini, segelintir pihak itu adalah perusahaan-perusahaan Farmasi raksasa, bukan hanya Indonesia, tapi juga dunia, sebutlah Pfizer dan Roche. Dan selain itu yang menikmati keuntungan tentu saja. Lembaga Donor Pinjaman, mereka akan mentalangi negara-negara yang perekonomiannya kolaps, resesi akibat Krisis, mereka menawari bantuan pinjaman. Tapi tentu saja: Tidak ada makan siang gratis. Ada yang harus dibayar kemudian oleh si Penghutang, entah apa dan berapa banyak.

Ah sudahlah!

Last modified: December 7, 2020

Author

Comments

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.