Jam 14.20 . Cafe Garden Caffe , Jalan Bengawan , Bandung

Rian

Aku turun dari mobil langsung masuk ke pelataran cafe , cuaca masih mendung dan udara masih sejuk. Aku masuk ke dalam cafe, di depan etalase Barista serta pelayan segera membungkuk menyambutku dan mengucapkan selamat datang. Kulambaikan tangan membalasnya.

“Hei Rian!” sebuah suara memanggilku

Aku menoleh ke arah dalam, ke arah asal suara panggilan yang ternyata berasal dari seorang wanita cantik bertubuh agak mungil. Kulihat Milly melambaikan tangan di sebuah meja dan aku segera menghampirinya. Setelah ‘Say Hi’ kami melakukan ‘Salam Namaste’.

Terkadang aku merasa lucu dengan ‘salam Namaste’ akibat efek pandemik ini. Aku dan Milly adalah Non muhrim dalam agama Islam, jelas secara syariat Islam yang sackleck kami dilarang bersentuhan, maka salam yang diperbolehkan adalah ‘Salam Namaste’ . Itu dalam kondisi Normal. Tapi kini seluruh dunia mendadak menjadi ‘Islami’ dengan melakukan ‘Salam Namaste’, bukan hanya dengan lawan jenis tapi juga sesama jenis.

“Lo dah makan? Pesen aja dulu gih?” tawar Milly. Di samping kami seorang gadis pelayan memberikan menu kepadaku.

“Thanks, ..Gw dah makan tadi di kereta. Gw pesen Hot Coffee Latte aja… ya, eh, sama franchaise aja”

“Franchaise? French Fries, kali ?”

“Eh iya, Frech Fries.. Sorry .. gw suka lupa istilah2!” kataku tertawa.

Si Mbak Pelayan mencatat pesanan kami dan kemudian berlalu.

“Lo masih kerja di I.T. ya? Eh, lo dulu ITB lulusan apa sih?”

“Gw Jurusan Fisika , Mil.”

“Lha kok jauh banget ke I.T. Gw pikir tadinya lo jurusan Informatika. Tapi kok nyambungnya ke I.T. ?”

“Hehehe, yah. Gw memang sebenarnya banyakan otodidak sih belajar I.T”

Aku tersenyum. Pertanyaan ini sering diajukan orang-orang kepadaku. Gosh! Betapa aku ingin menjelaskan kepada seluruh dunia bahwa Fisika dan Matematika adalah Induk dari segala ilmu Tehnik.

Ibaratkan dengan pondasi bangunan, Fisika adalah Ilmu Fundamental, memang kelihatannya tidak terpakai secara praktis, tapi dengan menguasai konsep dan logika Fisika itu akan memudahkan kamu untuk mempelajari apapun. Richard Feymann, seorang ahli fisika bahkan pernah mengatakan: ‘Kalau kamu sudah menguasai dan memahami dengan betul Mekanika Kuantum, maka kamu akan mudah mempelajari hal apapun’.

“Ok deh, oh ya ini. ” Milly membuayarkan lamunanku. “Gw mau ngasih tau kenapa lo kita undang ke sini. Jadi begini, ini ada temen gw, dia tau lo dari Acara Indonesian AI Summit, kayak semacam I.T. Conference Besar yang diadain kemarin sama pemerintah”.

BACA JUGA:  Solehai - Episode 2.2

“Oh gitu ..” aku tersenyum, “Bukan I.T. , Mil. Tapi A.i. Artificial Intelligence, Kecerdasan Buatan. Ya gw memang hadir di sana, gw bantuin Boss gw bikin materi. Itu acara memang besar banget yang buka aja Presiden , di tanggal 10 November 2020, pas hari Pahlawan. “

“Oh gitu, Presiden ada di situ? Kok gw gak tahu ya?”

“Ya , karena di hari yang sama , media mendifraksi fokus publik ke arah kepulangan Rizieq Shihab dari Arab!”

“Hahaha. Iya, pengalihan isu yang bagus!”

“Hahaha, yup. Tapi ntar deh nanti gw jelasin lebih jauh, lo search aja di Youtube : ‘Indonesian AI Summit’ .. Ok, nah sekarang kalo boleh tau siapa nama temen lo ?”

“Ntar gw kenalin, kita mau Zoom Meeting sebentar lagi. Temen gw ini namanya Michael Raditya, dia Sekjen Partai gw”.

“Sekjen ?! Sekjen Partai lo, Partai PSMI ?”

“Yup, partai gw. Nggak apa kan?”

“Lo gak berniat ngajakin gw gabung kan? Soalnya gw kan bukan politikus?”

Milly tertawa, “Ya gak lah, ini berkaitan dengan bidang lo kali. Ya bidang A.i. gitu lah! Kita bakal meeting nanti kok jam 4, lo santai kan?”

“Hmmm.. Ok, we’ll see that!”

“Emang saat ini lo kerja di mana kalo gw boleh tau?”

“Yah, gw kerja di sebuah perusahaan A.i juga. Cognixy.ai , di Kebon Jeruk. Gw Solution Consultant di sana. Nah lo? Lo sendiri gimana, kemarin terakhir gw denger lo nyaleg jadi DPR dapil jawa Barat kan?”

“Yaah, tapi lo kayaknya dah tau gw gagal kan, belum tembus. Yaah lo tau sendiri lah, ini partai gw kan juga baru . Bisa dibilang kita masih gurem, dibandingkan partai-partai lain.”

Aku tertawa, “Nggak, Mil!” jawabku. “Biarpun kecil, tapi setau gw banyak orang yang naruh harapan pada kalian, bahkan jujur aja gw sendiri. Gw juga ngikutin kali sepak terjang PSMI dalam kasus anggaran DPRD DKI kemarin. “

Milly tertawa kecil dan menunduk. Entah malu atau bangga. Kasus Pengajuan Anggaran DKI muncul di akhir November 2020, di mana saat itu DPRD mengajukan tambahan Anggaran untuk gaji dan tunjangan tiap-tiap anggota dewan hingga 700 juta Rupiah per bulan atau 8 milyar per tahun, sama dengan deviden 15 persen saham Indofood yang dimiliki oleh Anthony Salim. Kasus ini menarik karena semua fraksi partai-partai di sana setuju, kecuali satu yang menentang: PSMI, partainya Milly.

BACA JUGA:  Memanggil Kembali File yang dihapus di Online dengan Chache

“Ya tapi lo taulah, suara kita mana bisa sih kedenger, yaah ibarat kita ngelawan gajah-gajah raksasalah!”

Aku tertawa, “Tidak, tidak! Apa yang kalian lakukan luar biasa, kalian berani berkata ‘Tidak’ di saat semua orang melakukannya. Mudah-mudahan itu bukan gimmick.”

Milly tertawa, “Ya, mudah-mudahan aja kita bisa konsisten sih!”

“Yup, itu intinya. Partai kalian mayoritas diisi anak-anak muda, kaum millenial, kalian semua idealismenya tinggi, saat ini kalian memang kecil, yaah tapi gw berharap nanti apabila partai kalian besar..”

Aku diam sejenak …

“Gw berharap… yah, kalo gak salah Abraham Lincoln pernah bilang: ‘Jika kamu ingin mengetahui watak asli dari seseorang…”

“..maka beri dia kekuasaan!” jawab Milly

“Tul’ banget! Banyak orang bisa bertahan saat di bawah, tapi belum tentu bisa bertahan saat di atas. Maksud gw, lo lihatlah sejarah, manusia bisa bertahan saat mengalami siksaan di bawah, entah itu dipenjara, dikucilkan, disiksa, ya pokoknya ditindas .. Mereka masih bisa tahan.

Tapi saat mereka di atas, saat mereka sudah mendapatkan kekuasaan, saat mereka kaya, banyak duit, banyak pengikut,..”

“Yaah, gw juga gak berani menjamin juga sih,” kata Milly, “Lagian karakter manusia juga gak bisa kita tebak kan?”

Seorang Mbak-mbak pelayan menghampiri kami, pesanan cafe latte dan french fries ku sudah datang. Aku mengambil piringnya, dan mengambil sebuah potongan.

“Waktu yang akan membuktikan!”

Aku mengangkat potongan kentang ke depan wajahku, seolah ingin menunjukkannya pada Milly.

“Waktu yang akan membuktikan. Hidup itu singkat tetapi mesti kita nikmati, seperti kentang ini.”

Aku memakan kentang itu.

“Manusia seharusnya belajar sejarah, karena sejarah pasti berulang. Dan satu hal: Nothing Last Forever

Dulu saat Orba , Soeharto kuat banget. Kita dulu menyangka gak ada satupun yang bisa mengeser Suharto, dia kurang apa coba? Birokrat dia punya, militer dia punya, pers dia kontrol, parlemen dikuasai…Kurang apa coba?”

“Tapi tetap aja ada reformasi kan?”

“BETUL! Nothing Last Forever, Mil.

Mestinya kita belajar dari situ. Dan sekarang lo lihat, Amerika Serikat tadinya adalah negara adikuasa, penguasa perekonomian tapi sekarang lo lihat : mereka mulai tergeser dominasinya sama China.

Yaah , kalo lo tarik mundur ke belakang lagi, dulu Romawi bertahan 1000 tahun, ternyata runtuh juga, kemudian Ottoman 500 tahun, runtuh juga. Itulah sejarah itu naik-turun , Mil.. Tidak ada kejayaan atau kemerosotan yang langgeng.”

BACA JUGA:  Solehai - Episode 1.2

“Nothing Last Forever!” kata Milly

Aku tertawa, sudah dia belajar sesuatu.

“Yaah gw ngomong ini buat ngingetin aja sih, karena, yaah. Kita hidup mau berapa lama sih , paling lama juga 100 tahun?

Dan kita tahu kan, kita gak hidup cuman ‘di sini’ saja (sambil telunjukku mengarah ke bawah) , tapi di ‘Alam Sana’ kita juga hidup kan? Hidup di ‘sini’ mah sebentar banget, justru di ‘Alam Sana’ yang lama sekali!

Jadi kalo pake hitung-hitungan dagang ya, buat apa kita mengorbankan sesuatu yang sangat besar demi sesuatu yang kecil sekali, ya gak?”

Milly tertawa, “Lo ngomong seolah-olah mau bilang gw mau jadi orang besar!”

Aku tertawa, “Who knows?! Seperti yang gw bilang tadi: Sejarah Naik-turun. Dan kalo saat itu terjadi, ya.. Alhamdulillah. Tapi setidaknya sekarang gw udah ngingetin lo kan?”

“Kalo gitu , lo bilang sejarah naik turun. Kalo gitu Indonesia bisa jadi dong jadi negara maju, naik ke pentas dunia?”

“Who knows?! Seperti yang lo liat dari sejarahkah: Kejayaan dan Kemerosotan itu silih berganti. Saat ini kita mungkin mengalami Kemerosotan, SDA kita dikuras asing, Korupsi Merajalela, SDM kita yang paling rendah kalo lo ukur dengan test PISA.

But..Who knows?

Suatu saat kita akan bangkit, rakyat kita akan sadar, roh kebangsaan akan masuk kembali lagi, kita akan mendapatkan Zeitgeist kita kembali.

Mungkin saja kelak bangsa ini memperoleh kembali ke Zeitgeist-nya: Menjadi bangsa Maritim. Kita akan kembali menjadi Negara Maritim seperti Majapahit dulu, Poros Maritim Nusantara akan terbentuk, kapal-kapal kita bertebaran di seluruh dunia, di mana-mana, armada kapal kita kembali jaya, karena kita akhirnya memiliki mental Eksplorasi, kita berani untuk ‘Keluar dan Menjelajah’ , bukan lagi mental ‘Jago kandang’ dan inferior seperti sekarang ini.

Matahari kelak tidak akan pernah tenggelam untuk orang Indonesia. Karena kita ada di mana-mana. Kita ada di kapal-kapal di Laut Karibia, Laut Alaska, Samudra Hindia, Pasifik, Atlantik, Terusan Suez, dan banyak lagi.

Who Knows?”

Milly terdiam menatapku, entah kenapa. Mungkin dia masih bingung mendengar kata-kataku tadi. Yah… Who Knows?

Matahari kelak tidak akan pernah tenggelam untuk orang Indonesia.

Zeitgeist.

Last modified: December 7, 2020

Author

Comments

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.