Garden Caffee , Jalan Bengawan Bandung

Rian

Link Zoom Meeting diberikan Milly via email, meeting dijadwalkan jam 4, sekitar 15 menit lagi. Aku dan Milly membuka laptop masing-masing , saat aku membuka laptop, Milly sempat melihat laptopku dengan keadaan webcam tertutup silotip hitam.

” Webcam lo tutupin selotip?”

“Oh ini? Sebentar gw buka dulu.” kataku sambil mengelupas selotip yang menutup webcam laptopku. “Saat laptop lo amit-amit sewaktu-waktu diserang hacker, misalnya dengan malware, hacker akan mencoba pertama kali meng-hijack webcam lo selama beberapa detik, dia mengaktifkan webcam tanpa lo sadari, kecuali lo sempat memperhatikan lampu webcam menyala. Tapi beberapa detik itu udah cukup bagi hacker buat meng-capture gambar muka lo!”

“Oh ok-ok!” kata Milly, “Mbak maaf boleh minta password wifinya?” Milly bertanya pada seorang Mbak-mbak pelayan.

“Eh, kita mau meeting Zoom-an kan? Lo ikutan meeting kan?”

“Iya, emang kenapa?”

“Mestinya lain kali kalo mau meeting jangan biasakan menggunakan koneksi wifi tempat umum, lebih baik tethering dari hp sendiri. Wifi di caffe ini kan public, secara security lebih vulnerable.” jawabku

“Oh , ok deh!”

“Tapi kali ini gpp, deh, pakai wifi aja! Atau kalo lo mau lo bisa ikutan thetering gw “

Milly tertawa, “Ya udah deh gw pake wifi aja, biar gak ribet.” Mbak-mbak pelayan tadi memberikan Milly kertas berisi password wifi. Milly mengaktifkannya. Aku membiarkan Milly, kuaktifkan tethering hpku sendiri dan kunyalakan hotspot laptopku. Kami segera online.

Tak lama kemudian Zoom meeting dimulai. Agar tidak mengganggu , aku dan Milly memakai headset. Di layar Zoom seberang sana ada aku melihat beberapa nama : ada Mike Raditya, ada Insan Solehai, ada Raja Juli, ada Natalia dan ada Rizal Karniadi, dan yang terakhir ini mengingatkanku pada seseorang yang sudah kukenal lama.

Kami saling menyapa. Milly memperkenalkan aku. Di layar meeting semua peserta mengaktifkan kameranya sehingga terlihat video masing-masing peserta. Demi menjaga kesopanan, aku segera merapihkan bajuku lalu ikutan mengaktifkan webcam, agar mereka juga bisa melihatku.

BACA JUGA:  Solehai - Episode 1.1

“Selamat sore, Mas Mike, Pak Insan, Pak Rizal. Ini perkenalkan mas Rian Irawan Hariadi. Ini kawan yang saya maksud yang orang jago A.i. yang,… mudah-mudahan bisa membantu kita.” kata Milly.

Aku membungkukan badan merendah, tentu kendala meeting online adalah lawan bicara tidak akan bisa menangkap bahasa tubuh kita. Aku memutuskan diam saja, tombol mic tetap aku mute.

“Halo, selamat sore Mas Rian.” kata suara Mike di seberang sana. “Saya perkenalkan, ini Pak Raja Juli Asisten Sekjen dari Partai, Bu Natalia Ketua Umum, dan ini Pak Rizal Karniadi, saya yakin Mas Rian udah kenal beliau”

Dr. Rizal Karniadi. Bagaimana aku bisa lupa? Dosen pembimbingku di Fisika ITB untuk bidang Fisika Komputasi. Orang ini pintar dan rendah hati. Tapi bagaimana dia bisa bersama para politikus ini ? Dan mereka bukan politikus sembarangan, mereka elit partai! Nama-nama tadi beberapa kali aku dengar di media, dan sepertinya wajah mereka sering muncul di layar kaca.

Aku bertanya-tanya, sebenarnya ada perlu apa mereka sampai perlu memanggilku? Tapi aku sudah punya dugaan bahwa mereka tahu mengenai diriku dari Pak Rizal.

Aku ingin menyela tapi aku segera mengendalikan diri, aku sadar ini adalah Zoom meeting, sebuah meeting online yang tentu jauh berbeda dari meeting fisik. Di sini kita tidak bisa menyela seenaknya karena bisa merusak flow.

“Dan terakhir,” lanjut Mike, “Saya perkenalkan orang spesial di antara kita, ini Bapak Dr. H. Insan Solehai!”

Sebuah window di layar kulihat video dengan profil nama itu, seorang lelaki berkacamata tersenyum membungkuk. Lelaki ini senior, dan sepertinya paling senior di antara peserta meeting ini. Kulihat dari raut wajahnya, rambutnya tersisir rapi hitam keputihan karena usia, dia kira-kira berusia 50 tahunan, tetapi dia masih terlihat gagah, tampan, dan awet muda. Terlihat sekali di masa mudanya sepertinya dia seorang pria yang digilai wanita.

BACA JUGA:  Solehai - Episode 1.3

Perawakan orang ini kalem dan mendalam, sangat mengesankan sekali kalo orang ini sangat cerdas dan berpengetahuan mendalam. Dia sepertinya lebih pantas menjadi seorang intelektual, seorang Pemenang Nobel Fisika atau Matematika apabila andaikata sudah ada orang Indonesia yang mendapatkannya.

Tapi kenapa orang ini berada di sini? Dia malah memilih terjun ke politik?

“Nah, Mas Rian,.. ” lanjut Mike, “Pak Solehai ini adalah seorang yang seorang yang akan kita orbitkan, untuk bisa memberika yang terbaik bagi bangsa ini. Dan beliau ini juga sangat tertarik pada dunia teknologi, terutama Kecerdasan Buatan atau A.i.”

Aku belum bisa menangkap kata-kata Mike yang bernada diplomatis mengenai Pak Insan Solehai: dia mau diorbitkan, dia mau dijadikan pemimpin partai? Anggota dewan? Dan dia tertarik pada A.i ? Aku belum berani menerka-menerka.

“Untuk selanjutnya mungkin saya serahkan saja langsung pada Pak Solehai ya, biar beliau saja yang menerangkan.”

Mike terlihat me-mute mic nya, dan Pak Solehai mengaktifkan mic.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh! Selamat sore Pak Rian, sebelumnya saya ucapkan: Terima kasih sekali sudah bersedia bergabung bersama kami!”

Suaranya tampak kalem, namun tegas dan berwibawa. Tutur katanya jelas dan intonasinya pas, tidak terlalu cepat. pelan pun tidak. Aku segera merasakan aura kharismatik dari orang ini, sekalipun secara online, lagipula dia memanggilku ‘Pak’ untuk menghormati. Aku segera ‘terangkat’ oleh panggilan itu dan merasa sungkan.

Dia terdiam sejenak, aku sadar maksudnya. Ku segera un-mute microphone, dan menjawab, “Walaikumsalam warahmatullah wabarakatuh, sama-sama Pak , senang juga bisa berkenalan sama Bapak!” jawabku.

“Baik, Pak Rian. Sebelumnya sebagaimana yang sudah disampaikan oleh Pak Mike, saya memang tertarik sekali dengan Teknologi Kecerdasan Buatan alias Artificial Intelligence atau yang disingkat A.i. . Dan memang saat ini kami sedang mencari orang untuk bisa membantu kami dalam pengembangan teknologi ini di lingkungan kami. Kami berharap Bapak adalah orang yang tepat untuk itu.”

BACA JUGA:  Solehai - Episode 1.2

Jeda sejenak lalu aku menjawab.

“Terima kasih atas tawarannya, saya merasa terhormat, Pak Solehai. Tapi mohon maaf, saya masih agak kurang mengerti ya, kira-kira bantuan apakah yang diperlukan dari saya? Mohon maaf sekali lagi karena saya bukan orang politik, jadi masih buta soal perpolitikan dan lain-lain.”

“Baik, terima kasih, Pak Rian. Saya tahu Pak Rian adalah seorang profesional di bidangnya dan bukan orang politik, tentu saja saya akan segera menerangkan kebutuhan apa yang kami perlukan dari Bapak dalam soal yang berkaitan dengan bidang yang Bapak geluti.

Tapi sebelumnya, kalau Pak Rian tidak keberatan. Saya ingin menanyakan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan pekerjaan Bapak. Yah pertanyaan seputar dunia A.i.

Mohon maaf sebelumnya ya, Pak. Ini kita tidak bermaksud untuk mengetest Bapak. Bukan, Pak. Ini bukan test atau ujian, tapi ini kita hanya ingin saling mengenal saja, untuk bisa saling bersilahturahmi, supaya kita pun bisa mengenal Pak Rian lebih jauh.

Bagaimana , apa Bapak bersedia?”

Jeda sejenak, lalu aku menjawab:

“Oh tidak, silahkan Pak Solehai, saya malah senang sekali!”

Ini adalah sebuah Test. Aku tahu itu, sekalipun dengan bahasa yang sangat sopan dia mengatakan ini hanya silahturahmi dan semacamnya, tapi ini adalah sebuah test. Orang ini sedang meng-test seberapa dalam pengetahuanku tentang teknologi Kecerdasan Buatan.

“Nah, baiklah kalau begitu Pak Rian. Yang pertama yang ingin saya tanyakan adalah : Apa yang Bapak ketahui tentang Teknologi Artificial Intelligence alias Kecerdasan Buatan itu? Dan menurut Bapak: Sejak kapankah teknologi itu mulai ada dan mengapa baru ‘in’ akhir-akhir ini saja, kenapa tidak dari dulu? Itu saja , terima kasih Pak Rian” tanya Pak Solehai.

Dan aku sama sekali tidak menyangka akan mendapat pertanyaan semacam ini.

Last modified: December 7, 2020

Author

Comments

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.